Nama Rob Reiner mulai banyak dibicarakan terkait keberhasilan When Harry Met Sally yang dibesutnya tahun 1989. Banyak yang terperangah menyaksikan ‘keajaiban’ Reiner mengolah hubungan pria–wanita jadi ‘tak biasa’. Keberhasilan When Harry Met Sallytentu tak melulu bertopang pada Reiner seorang. Ada Nora Ephron yang menuliskan skenarionya. Juga ada pasangan pemeran utamanya, Billy Crystal dan Meg Ryan. Kombinasi ketiga faktor inilah yang membuat When Harry Met Sally berkilau sepanjang tahun. Bahkan, kerja keras Ephron beroleh nominasi Oscar (ia ‘hanya’ kalah dari Tom Shulman yang membuat skrip Dead Poets Society pada tahun 1989). Dan lewat film inilah, Meg Ryan dicap sebagai artis spesialis komedi romantis.
Formula yang nyaris sama dengan pengembangan disana–sini diuji coba Reiner di karya terbarunya, Alex & Emma. Jika saja Meg Ryan masih ‘berkilau’, bisa jadi Reiner juga memintanya melakoni karakter Emma. Tapi Reiner mesti bersyukur, ia punya Kate Hudson, aktris bermasa depan cerah. Orang–orang boleh menyamakan Hudson dengan ibu kandungnya, Goldie Hawn yang juga terkenal dengan peran komedi. Namun lewat Alex & Emma-lah, Hudson membuktikan, bahwa meski ia dan ibunya cenderung berkutat di jalur yang sama, toh mereka bisa ‘besar’ dengan cara yang berbeda.
Di Alex & Emma, tentu Hudson yang diplot sebagai Emma. Lengkapnya Emma Dinsmore, seorang stenografer. Ia dipekerjakan oleh Alex Sheldon (ada hubungan apa gerangan dengan Sidney Sheldon yang mahsyur itu?) dilakoni Luke Wilson, penulis berbakat yang sedang mengalami kesulitan besar. Alex sedang diburu–buru centeng rentenir akibat meminjam uang melebihi batas waktu. Jika ia tak melunasinya dalam 30 hari, tamatlah riwayatnya. Tapi, ia masih punya akal untuk melunasinya. Dengan bantuan penerbitnya, Alex bisa membayar utang dengan catatan ia juga harus bisa menyerahkan naskah novelnya dalam 30 hari. Wah!
Lantas Alex & Emma menyorot proses kreatif yang dilakukan Alex. Alex mengarang sebuah kisah cinta antara Polina dan Adam. Berbagai trik yang ditaruhnya dalam buku tersebut sering membuat Emma protes. Memang Emma ‘hanya’ stenografer, tapi ia juga calon pembaca. Jadi mestinya Alex pun peduli pada keinginan pembacanya. Alex menciptakan double cinta segitiga antara Polina–Adam-John Shaw dan Polina–Adam–Anna dalam novelnya. Kedekatan keduanya membuat hubungan mereka semakin intens. Hanya saja, siapa sangka karakter–karakter yang diciptakan Alex ternyata sebagian berasal dari kisah nyatanya?
Berlebihan memang membandingkan When Harry Met Sally dengan Alex & Emma. Formula boleh sama, tapi hasil akhir bisa jadi berbeda. Pada kasus Alex & Emma, penyebabnya bisa jadi pada skenario. Jika Sally bertahan begitu lama pada sikapnya untuk tak luluh pada Harry, maka Emma justru sebaliknya. Padahal di awal, Emma digambarkan begitu ‘galak’ pada Alex. Dengar saja kata–katanya,
"Well, I don't intend to spend my time in the personal apartment of a desperate man. You want sex, Mr. Sheldon. You are barking up the wrong body!"
Tapi begitu hari berakhir, boom…. si galak Emma berganti jadi si manis Emma. Perubahan karakter yang terlalu cepat dan berkesan dipaksakan.
Formula komedi romantis juga banyak bersandar pada faktor kebetulan yang sangat tipikal. Sebagai seorang master komedi romantis, mestinya Reiner bisa berbuat lebih. Dengan menambah ‘aral’ pada hubungan Alex dan Emma misalnya. Atau membuat ending yang tak terduga. Tapi yah sudahlah, mungkin komedi romantis memang harus seperti ini. Harus berakhir dengan bahagia demi menyenangkan hati penonton.






LEAVE A REPLY