Home FILM Peringatan Kematian Sean Sullivan

Peringatan Kematian Sean Sullivan

Film Ash Wednesday [2002]

2
0
SHARE
Peringatan Kematian Sean Sullivan

Entah mengapa, Hell’s Kitchen sangat sering diangkat jadi setting film, utamanya film kisah mafia. Tak peduli dari dua puluh tahun sebelumnya hingga saat ini, ketertarikan sineas tak berkurang sedikitpun. Padahal sudah terlalu banyak yang diekspos, mulai dari Public Enemy (Michael Mann, 2009), Mean Streets  (Martin Scorsese, 1973), Sleepers (Barry Levinson, 1996) hingga Ash Wednesday (Edward Burns, 2002). Yang disebut terakhir adalah produk teranyar yang mengedepankan borok–borok daerah pemukiman dengan tingkat kriminalitas tinggi itu.

Ash Wednesday bertopang pada kisah Frances Sullivan (Edward Burns) yang menolong pelarian adiknya, Sean Sullivan (Elijah Wood) setelah 3 tahun bersembunyi. Sean menjadi tersangka pembunuh 2 orang yang ditembaknya hingga tewas. Kejadian ini membuat banyak pihak mencarinya. Namun berkat kakaknya, Sean bisa ‘ditolong’. Caranya, dengan menyebar berita bahwa Sean telah meninggal. Orang–orang pun gampang percaya dibuatnya.

Masalah timbul ketika Sean yang tak tahan terkurung di persembunyiannya selama 3 tahun, menyelinap sembunyi–sembunyi. Tepat di saat Ash Wednesday, persis 3 tahun kepergiannya. Seseorang yang sempat berbicara di bar dengannya mengabarkan orang–orang bahwa Sean masih hidup. Gegerlah seantero Hell’s Kitchen. Juga Grace (Rosario Dawson), istri Sean yang telah memberinya putra mungil. Sayangnya, keinginan Sean memulai hidup baru tidak berjalan mulus. Pun masih banyak pihak–pihak yang membantu Frances menyiapkan pelarian kedua bagi adiknya ini. Selain sebagai aktor, Edward Burns juga dikenal sebagai sutradara. Namun belum banyak karyanya yang ‘berbicara’. Tidak juga karya termutakhirnya ini, Ash Wednesday.

Film ini tak mencoba mengambil sudut pandang yang ‘beda’ untuk film sejenis. Masih sama resepnya: kekuatan persaudaraan, bahu-membahu sesama teman, hingga sumpah-serapah yang berserakan di seluruh film. Jadi tak mengherankan jika akhirnya bisa begitu gampang ditebak, terlebih bagi penonton yang menyukai jenis film seperti ini. Pun jalan ceritanya mengalir terlalu lambat, terlalu banyak ‘omong kosong’ yang diselipkan dalam dialog hingga tokoh–tokoh pendukung menjadi tidak penting. Juga tak ada penggalian karakter. Sampai film berakhir, bisa jadi penonton tak bakalan tahu alasan Sean membunuh 2 orang tersebut. Rupanya, Burns lebih ingin ‘mengangkat’ Hell’s Kitchen dengan omongan kasarnya. Dan well, mungkin itu kesan yang diperoleh sebagian besar penonton setelah menonton film ini.

Untungnya, Ash Wednesday masih bisa dipuji atas tone penggunaan warna yang tidak ‘biasa’ (sangat efektif memunculkan kesan kumuh) yang digunakan terus-menerus sepanjang film. Juga musik berdentam–dentam dan kadang dengan sengaja direpetisi. Repetisi yang sesungguhnya bisa membosankan, tapi entah dengan cara bagaimana, disini Burns membuatnya nyaris seperti ‘hipnotis’. Di atas semuanya, Elijah Wood mesti diacungi jempol atas keberaniannya menerima peran yang lain dari biasanya. Terlepas dari aksen yang kurang kasar, sebagaimana yang ditampilkan oleh pemain lain, Wood toh tampil tak terlalu jelek.