Tahun 2017. Seorang kakek berusia 83 tahun bernama Sergio Chamy menjawab sebuah iklan lowongan kerja di sebuah panti jompo. Tugas utamanya adalah mencari tahu apakah betul terjadi perlakuan kekerasan terhadap sejumlah penghuni di sana.
Sergio terpilih karena selain tampan, ia pun terlihat masih lincah. Paling tidak untuk ukuran kakek-kakek seusianya. Maka ia dipaksa belajar segala peralatan untuk menjadi mata-mata hampir seperti yang dilakukan James Bond. Karena usianya maka susah betul bagi Sergio mempelajari segala teknologi canggih termasuk sesederhana memotret menggunakan iPhone hingga mengoperasikan aplikasi WhatsApp hingga FaceTime.
Cerita di atas bukanlah fiksi namun termuat di film dokumenter dari Chile, The Mole Agent. Saking menarik dan tak biasanya tema yang disajikan membuat film ini beroleh sambutan meriah di seluruh dunia hingga terpilih sebagai nomine Best Documentary Feature di Academy Awards tahun 2021. Sutradara filmnya, Maite Alberdi, menjuluki Sergio sebagai “detektif terburuk sedunia”.
Maka tak butuh waktu lama melihat film dokumenter ini bertransformasi menjadi serial di Netflix berjudul Man on the Inside dan kini sudah memasuki musim ke-2. Ted Danson diplot sebagai Charles, pensiunan profesor yang kesepian setelah istrinya meninggal. Maka Charles iseng menjawab sebuah iklan lowongan kerja untuk menyelidiki pencurian di sebuah panti jompo. Dan voila, dalam sehari, jabatannya beralih dari pensiunan profesor menjadi detektif.
Maka bayangkan kelucuan dan kekacauan yang mungkin terjadi. Charles menyusup ke panti itu sebagai penghuni dan karena sosoknya yang tinggi tegap dan ganteng segera saja ia menjadi pusat perhatian. Beberapa penghuni perempuan berebut perhatiannya. Beberapa penghuni pria cemburu karena keberadaan Charles. Semuanya membuat Charles terdistraksi dari apa yang sesungguhnya menjadi tanggung jawabnya.
Putrinya, Emily, gelagapan melihat pekerjaan baru yang dilakoni ayahnya. Tapi pada akhirnya ia mengerti bahwa menjalani masa tua bukan berarti berhenti hidup. Pekerjaan baru itu, meski sepintas terkesan berbahaya, membuat Charles merasa hidup. Dan siapa sangka dalam menjalankan pekerjaan barunya itu ia mendapatkan sesuatu tak terduga: persahabatan dan cinta.
Di Indonesia kita jarang sekali mendapati sebuah serial yang tayang di layanan streaming yang ceritanya berfokus pada mereka yang berada di usia senja. Karenanya Man on the Inside menjadi kesegaran bagi banyak penonton terutama yang menggemari komedi ringan menggelitik dan juga menyodorkan pesan-pesan humanis. Serial ini menjahit semuanya dengan menarik dalam 8 episode setiap musimnya. Tentu saja menarik menyaksikan karakter kakek-kakek berusia 70-80 melakukan aksi-aksi mata-mata yang sesekali mendebarkan dan seringkali kocak. Juga menarik melihat bagaimana pria sematang itu masih bisa menjalin persahabatan yang tulus dengan pria seumurannya. Dan paling menarik tentu saja menyaksikannya jatuh cinta pada saat paling tak terduga yang seringkali mengaburkan penilaian obyektifnya.
Ted Danson adalah cahaya di serial ini. Ia tak lagi seperti bermain detektif-detektifan namun ia betul-betul terlihat sepertinya. Jangan bayangkan segala aksi fisik buat pria seumurannya yang bisa dengan mudah mematahkan kakinya begitu saja. Tapi bayangkan ia dengan segala karismanya berhasil menipu orang selama beberapa waktu.
Jika Sergio dilabeli “detektif terburuk sedunia”, akankah Charles juga bisa dilabeli serupa? Hanya penonton yang bisa membuktikannya sendiri.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://www.resensi.my.id.stoedioportal.com//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY