Tahun 1993. Novelis John le Carre mempublikasikan novel pertamanya yang berlatar pasca Perang Dingin berjudul The Night Manager.
John adalah master dalam mengolah cerita berlatar spionase dengan intrik-intrik tak terduga, juga dengan tokoh-tokoh yang seringkali berhadapan dengan dilema. Begitupun penerimaan terhadap novelnya bisa berbeda-beda antar media. Kirkus Review misalnya menyebut le Carre sebagai master dalam hal detail. Namun The Washington Post justru mengkritik ending-nya di mana “orang baik tak selamanya menang, pun tak kalah”.
Saya setuju dengan penilaian The Washington Post dan menurut saya di situlah bagian paling menarik dari serial The Night Manager yang kini sudah tayang 2 musim di Prime Video. Sudah tak jaman sebuah film/serial selalu memenangkan karakter utamanya secara membabi buta. Seringkali mereka kalah, sesekali mereka menang, kadang kita tak tahu apakah kisah itu masih akan terus berlanjut.
Sesuai judulnya The Night Manager menyandarkan kisahnya pada sosok Jonathan Pine, seorang manajer hotel mewah. Badan intelijen mengendus keberadaannya, juga masa lalunya yang berlatar militer, untuk diselundupkan ke dalam jaringan perdagangan senjata internasional. Semesta mempertemukan Jonathan dengan musuh abadinya kelak, Richard Winslow Roper. Mereka berkejar-kejaran bagai kucing dan anjing di separuh dunia melintasi pelbagai negara. Meski didukung lembaga intelijen dengan sumber dana tak terbatas, tentu saja tak mudah menaklukkan Richard. Pengkhianatan demi pengkhianatan, ancaman demi ancaman dan kematian demi kematian terus membayangi Jonathan dalam aksinya menumpas aksi kejahatan Richard. Dan kita tahu kebaikan tak selalu menang dan kejahatan tak selalu kalah bukan?
The Night Manager bukanlah novel yang mudah difilmkan. Paling tidak ada 2 perusahaan film yang pernah berniat mengadaptasinya menjadi film namun gagal. Menurut Adam Sisman, penulis biografi le Carre, serial berdurasi enam jam adalah medium paling cocok untuk mentranslasikan segala kerumitan dalam cerita. Plus serial ini juga dipujikan berkat skenario yang tak sekedar tajam dan cerdik namun juga seringkali berhasil menghindar dari klise.
Sorotan terbesar di serial ini memang ada pada adu kuat duo aktor karismatik, Tom Hiddleston dan Hugh Laurie. Melihat Tom sebagai Jonathan membuat kita mudah membayangkannya sebagai James Bond. Ia tak hanya tampan dan bergaya namun juga lihai beraksi dan cekatan dalam mengambil keputusan-keputusan sulit. Sementara Hugh pun dengan mudah bisa kita bayangkan sebagai salah satu penjahat dalam James Bond yang tak sekedar keji namun juga sama sekali tak peduli nyaris pada siapapun kecuali dirinya sendiri.
Dengan memanusiawikan baik karakter pahlawan maupun karakter penjahat dalam serial ini memang akan selalu membuat kita melihat keduanya berhadapan dengan dilema secara konstan. Dan akhirnya memang kita bisa setuju pada satu kesimpulan yang sudah dituturkan oleh The Washington Post. Orang baik tak selamanya menang, pun tak kalah.

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://www.resensi.my.id.stoedioportal.com//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY