Tahun 1990. Meriam Bellina membintangi film berjudul Taksi dan membuat sang sutradara, almarhum Arifin C Noer, menjulukinya “magma perfilman Indonesia”.
Selain dikenal berani memainkan peran yang menuntutnya membuka busana hingga beradegan seks, sejatinya Meriam memang termasuk aktris tangguh. Hingga hari ini 3 piala Citra telah berada di genggamannya sebagai pengakuan akan kapasitasnya dalam berakting.
Sementara Suzzanna berkarir jauh lebih dulu dari Meriam Bellina. Pertama kali ia tampil di film besutan Usmar Ismail, Darah dan Doa, di tahun 1950. Namun Suzzanna beroleh popularitasnya justru setelah membintangi film bergenre horor yang juga seringkali menuntut dirinya membuka busana hingga beradegan seks seperti Meriam.
Dan puluhan tahun setelahnya Suzzanna menjadi ikon horor Indonesia. Rasanya tak ada lagi aktris yang konsisten membintangi film horor dengan tampilan dan peran-peran yang khas seperti dirinya. Keberadaan Suzzanna dengan peran-perannya yang ikonik justru menggairahkan dunia penelitian untuk melihat peran-peran yang dimainkannya terkait dengan representasi perempuan sebagai hantu dalam perfilman nasional. Kehadirannya juga pantas membuatnya berjulukan magma perfilman Indonesia.
“Ada benang merah yang menghubungkan berbagai riwayat hantu populer [seperti sundel bolong] yaitu terbatasnya akses perempuan terhadap keadilan dan pelayanan kesehatan, serta tingginya risiko kekerasan seksual yang mereka hadapi,” ujar Gita Putri Damayana, peneliti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) Indonesia sebagaimana dikutip dari The Conversation. Adapun Umi Halimah dalam penelitiannya bertajuk Hantu Perempuan Jawa dalam Alaming Lelembut Sebagai Representasi Femme Fatale menganggap bahwa Seksualitas perempuan yang terbebaskan ketika telah menjadi arwah menunjukkan bahwa semasa perempuan tersebut hidup, mereka selamanya berada dalam budaya yang mengharuskan perempuan untuk menyembunyikan seksualitasnya. Sementara laki-laki menggunakan aturan ini untuk melanggengkan kekuasaan dan kontrol atas perempuan.
Maka ketika Luna Maya didaulat untuk “membangkitkan kembali” sosok Suzzanna dalam film Suzzanna: Beranak Dalam Kubur di tahun 2018, banyak yang juga berharap bahwa film-film yang kelak diperankannya sebagai Suzzanna juga akan memunculkan pembicaraan terkait representasi perempuan sebagai hantu di perfilman Indonesia.
Tapi Soraya Intercine Films yang memiliki hak penuh atas kebangkitan Suzanna di film horor terkini justru memilih jalan berbeda. Setelah Suzzanna: Beranak Dalam Kubur yang dirilis 5 tahun silam di bioskop dan kini Suzzanna: Malam Jumat Kliwon, kita bisa melihat bahwa Luna Maya sekedar mengulang apa yang sudah disajikan Suzzanna di film-film yang mempopulerkan dirinya di periode tahun 1970-1980-an.
Tak ada upaya lebih besar dari tim penulis skenario untuk memberi nafas baru pada sosok ikonik tersebut. Suzzanna dihadirkan kembali tak lebih sebagai mesin komoditas untuk menarik perhatian masyarakat ke bioskop dan pada akhirnya demi mencetak status box office. Faktanya memang Suzzanna: Beranak Dalam Kubur berhasil mendatangkan 3,3 juta penonton ke bioskop.
Di film Suzzanna: Malam Jumat Kliwon, sutradara Guntur Soeharjanto lebih meletakkan unsur dramatik dan komedi sebagai pijak ceritanya. Peraih Piala Citra 2014 sebagai Penulis Skenario Asli Terbaik untuk film Tabula Rasa, Tumpal Tampubolon, menulis skenario yang bekerja dengan baik di 2 sektor tersebut. Ritme ceritanya terjaga dan motivasi karakter utamanya pun tergambarkan dengan baik. Unsur horornya sendiri tak istimewa dan sekedar pengulangan demi pengulangan dari sejumlah film yang sudah pernah kita saksikan di bioskop. Yang di luar dugaan adalah bagaimana Suzzanna: Malam Jumat Kliwon memasukkan unsur komedi yang kuat dengan dua sosok hansip [diperankan Opie Kumis dan Adi Bing Slamet]. Kehadiran keduanya memang dieksploitasi habis-habisan oleh Guntur dan memang menjadi penyelamat dari kebosanan atas pengulangan demi pengulangan yang ada.
Di luar pengulangan yang dilakukan oleh cerita/skenario tanpa upaya berarti, Luna Maya perlu mendapat tepukan meriah atas keberhasilannya membangkitkan kembali Suzzanna. Beban besar berada di pundaknya sejak awal ia didaulat untuk memainkan peran-peran ikonik dari ratu horor tersebut. Tak mudah untuk berakting di bawah bayang-bayang sebesar itu, yang bahkan tak mungkin bisa menjatuhkannya. Namun Luna justru berhasil menepis keraguan sebagian orang dan seperti “terlahir kembali” dalam wujud Suzzanna dalam 2 jilid film yang telah dirilis.
Dan tentu saja kita masih bisa menunggu kemunculan Luna dalam jilid film Suzzanna berikutnya. Dengan cerita yang bisa hadir lebih inventif dan tak sekedar memamerkan spectacle yang selalu bisa dicapai dengan biaya produksi yang besar. Dengan cerita yang hadir lebih inventif dan penyutradaraan yang lebih solid, bukan tak mungkin Luna Maya bisa kembali hadir sebagai penerus Meriam Bellina sebagai magma perfilman Indonesia.
SUZZANNA: MALAM JUMAT KLIWON
Produser: Sunil Soraya
Sutradara: Guntur Soeharjanto
Penulis Skenario: Ferry Lesmana, Sunil Soraya, Tumpal Tampubolon
Pemain: Luna Maya, Achmad Megantara, Tio Pakusadewo

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://www.resensi.my.id.stoedioportal.com//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY