Home FILM Mandala, Puisi, Teka-Teki dan Narasi Yang Tak Perlu

Mandala, Puisi, Teka-Teki dan Narasi Yang Tak Perlu

Film Ketika Berhenti di Sini [2023] - Tayang di Netflix

2
0
SHARE
Mandala, Puisi, Teka-Teki dan Narasi Yang Tak Perlu

Tahun 1928. Psikoanalis, Carl Jung, memperkenalkan mandala ke dunia Barat. Sebuah simbol yang dianggap berguna bagi mereka yang sedang merasakan kehilangan.

Mandala dalam bahasa Sansekerta berarti lingkaran, dan melambangkan bola, lingkungan, komunitas. Dalam Buddhisme, mandala digunakan untuk bermeditasi dan merenungkan ketidakkekalan kehidupan. Mandala sekaligus merupakan ringkasan dari manifestasi spasial, gambaran dunia, dan representasi kekuatan ilahi.

Mandala menjadi titik tolak bercerita dari film terbaru garapan Umay Shahab, Ketika Berhenti Di Sini. Digambarkan dengan 4 arah mata angin sebagai simbol dan dijadikan pintu masuk bagi Umay untuk bercerita.

Padahal pemilihan mandala sebagai simbol sesungguhnya brilyan, sayangnya mandala hanya berhenti sebagai teks, tak dieksplor lebih jauh sebagai subteks. Kita hanya melihat mandala sekilas, dalam beberapa gambar dan terutama dalam narasi yang dilontarkan tokoh utama, Dita, yang tak sepenuhnya efektif. Padahal jika bisa diakulturasikan dengan asyik ke dalam cerita, maka memaknai kehilangan, kematian dan keikhlasan setelahnya bisa jadi akan lebih terasa.

Karena keliru memilih pijakan dan terlalu terpaku pada narasi yang terasa berpanjang-panjang, maka Ketika Berhenti Di Sini juga terasa salah dalam memulai ceritanya. Saya membayangkan memulai cerita yang sesungguhnya segar ini dengan cara berbeda. Dita yang baru saja ditinggal ayahnya [bukan 8 tahun sebagaimana dalam film] tak perlu lama bersedih hati. Selain punya 3 sahabat yang sudah bersamanya sejak SMA, ia juga kini punya Ed. Seseorang yang hadir tanpa sengaja dalam hidupnya.

Tapi mungkin memang tak ada ketaksengajaan dalam hidup. Ed mungkin memang dihadirkan oleh Tuhan untuk menemani Dita di hari-hari terburuknya. Saya membayangkan adegan film di 5 menit pertama lebih menggambarkan bagaimana kedekatan Dita dan ayahnya dan bagaimana ayahnya mengenalkan simbol mandala yang menjadi filosofi penting dalam hidup mereka setelahnya. Ketimbang sekedar mendongengkan filosofi mandala, penonton perlu diperlihatkan bahwa sejak kecil mandala telah hadir dan penting dalam hidup Dita. Ia bukan sekedar simbol, ia juga menjadi penanda beberapa titik penting dalam hidupnya.

Maka ketika Ed juga pergi secara mendadak sebagaimana sang ayah, Dita hancur berkeping-keping. Dan kita pun ikut merasakan kehancuran itu. Kita tak perlu melihat Dita yang menangis meraung-raung. Mungkin kita hanya perlu melihat Dita yang menangis diam-diam dalam gelap dalam banyak kesempatan. Saya pernah dua kali merasakan kehilangan setara yang dialami Dita. Ketika kelas 1 SMA, saya kehilangan ibu saya karena kecelakaan mobil dan pada usia 30 ketika adik saya meninggal karena AIDS. Tapi karena momentum “merasakan kehilangan” ini tak diberi waktu di Ketika Berhenti Di Sini membuat saya tak ikut menangis bersama Dita.

Ketika Ed pergi pun, saya tak merasakah kehilangan semata karena skenario yang ditulis bersama Alim Sudio dan Umay itu tak memberi ruang lebih banyak bagi Dita dan Ed mengeksplor momen-momen intim, bukan sekedar mesra. Momen-momen dimana keduanya mencoba saling menyempurnakan, momen-momen dimana keduanya berbicara dari hati ke hati tentang banyak hal, termasuk soal kehilangan, kematian dan juga masa depan. 

Selain narasi yang tak efektif, puisi dan teka-teki yang sekali lagi sesungguhnya potensial dieksplorasi, hanya menjadi teks dan tak kunjung menjadi subteks yang menggigit. Tak pernah ada introduksi soal kecintaan Dita pada puisi dan teka-teki, hal yang terakhir yang membuatnya tertarik pada Ed [selain karena Ed berpenampilan ganteng dan charming tentunya].

Padahal puisi dan teka-teki ini juga sangat bisa efektif ketika ia hadir dari masa lalu Dita bersama ayahnya dan memori itu dibangkitkan lagi tanpa sengaja oleh Ed. Dan sekali lagi sesungguhnya tak ada ketidaksengajaan dalam hidup ini. Bisa jadi Ed memang dihadirkan oleh Tuhan untuk mengingatkan Dita pada hal-hal kecil yang perlu disyukurinya dalam hidup.

Jadinya memang menonton Ketika Berhenti Di Sini terasa seperti menyelesaikan puzzle yang beberapa potongannya berserakan entah ke mana. Potongan paling penting yang justru memperlihatkan apa yang menjadi pusat dari gambar di puzzle seperti sengaja dihilangkan begitu saja. 

Tapi Umay beruntung punya Prilly Latuconsina sebagai Dita. Saya sempat memproduseri Prilly di film layar lebar pertamanya di tahun 2013 berjudul La Tahzan dan mengarahkannya sebagai sutradara di serial 10 episode berjudul Cerita Dokter Cinta di tahun 2019. Saya tahu betapa seriusnya Prilly menekuni seni akting dan betapa hausnya ia untuk selalu memberikan kapasitas terbaiknya. Dan Prilly lebih dari sekedar jagoan memainkan adegan tangis namun ia juga punya kecakapan untuk mengerahkan segala apa yang dipunyainya di tubuhnya untuk menyampaikan rasa ke penonton. 

Sekali lagi soal subteks. Sekali lagi soal visual. Karena film sesungguhnya adalah tentang bagaimana menyampaikan rasa ke penonton lewat gambar-gambar yang berbicara, bukan melalui narasi-narasi yang tak perlu dari mulut tokoh-tokohnya.

 

KETIKA BERHENTI DI SINI

Produser: Umay Shahab

Sutradara: Umay Shahab

Penulis Skenario: Alim Sudio, Umay Shahab

Pemain: Prilly Latuconsina, Bryan Domani, Refal Hady

Video Terkait: