“Silakan masuk, Pak. Mau diantar ke mana?”
Sapaan hangat dari sopir taksi memecah sunyi di temaram malam. Dari sekedar basa-basi, si sopir lantas berkeluh kesah. Mengeluhkan biaya hidup yang semakin tinggi. Mengeluhkan panjangnya waktu kerja maupun perjalanan yang harus ditempuhnya demi membiayai keluarga. Ia pun berkisah bahwa sebagai sarjana pendidikan, ia menikmati pekerjaannya sebagai guru. Hingga suatu ketika, ia diberhentikan dengan hormat dari sekolah swasta yang terpaksa tutup itu.
Dengan usia yang terbilang senja, ia mengisahkan betapa susahnya mencari pekerjaan yang layak yang sesuai dengan latar akademisnya. Ia pun mengaku menyesal menikah di usia yang sudah matang, sehingga ketika usianya beranjak menua, kini 52 tahun, anak-anaknya terbilang masih kecil.
Bapak itu bernama Sukoco. Asli Jawa dan mengaku siap bekerja apa saja demi menyambung hidup. Sepintas melihatnya mengingatkan pada sosok Sugiyono. Pemuda yang sarjana filsafat yang akhirnya memantapkan hati bergelut di dunia nyata setelah dua tahun hidup menumpang di rumah budenya yang kaya.
Giyon, demikian ia biasa dipanggil, pun tak malu mengais rejeki demi menjadi sopir taksi. Profesi yang direndahkan oleh golongan masyarakat setingkat budenya. Ia tak hirau dengan status maupun kenyamanan yang selama ini dicicipinya. Ketika hendak meninggalkan rumah, ia tak sungkan berkata kepada budenya, “kalau saya meninggalkan rumah bude bukan karena saya merasa nelongso tinggal di gudangnya, tapi justru karena merasa terlalu enak. Hampir dua tahun kok ya survive di Jakarta padahal saya nganggur”.
Apapun, hidup Giyon tetap berjalan. Mulus tanpa rintangan. Hingga suatu ketika ia bertemu Desi. Sosok seorang ibu muda yang dengan gagah berani bertarung melawan ganasnya Jakarta. Tapi pertemuan keduanya sebenarnya bukan pertemuan yang menyenangkan. Demi mengejar hidup layak, Desi meninggalkan putri semata wayangnya pada sopir yang baru saja dikenalnya.
Maka mulailah sebuah babak baru dalam hidup Giyon. Oleh Arifin C noer, sang sutradara, sosok Giyon dan Desi dibenturkan. Keduanya sama-sama pada proses pencarian jati diri. Desi yang ditinggal pergi suaminya mencoba menyambung hidup dengan menjadi penyanyi. Dengan tegas ia mengaku bahwa dirinya adalah sosok penyanyi karbitan yang dipoles berkat teknologi canggih. Semuanya demi putrinya : Ita.
Dalam diskusi bertajuk “Arifin C Noer dalam Peta Perfilman Indonesia” di Teater Kecil, Taman Ismal Marzuki pada 28 Mei 2005, Nano Riantiarno mengatakan bahwa sosok Arifin ingin mendongeng dalam media yang dipilihnya. Tak hanya di teater yang menempanya sebelum beralih ke film, di film pun ia masih melanjutkan tradisi yang sama. Latar belakangnya yang besar di Cirebon yang menjadi gudangnya teater rakyat memungkinkan Arifin menimba ilmu secara langsung. Maka dongengan pria kelahiran 10 Maret 1941 ini pun khas. Ia tak hanya dekat dengan keseharian sebagian besar masyarakat Indonesia, kekhasannya pun tergambar dari keberpihakannya pada rakyat kecil. Maka seperti yang terlihat di Taksi, ia mencereweti nyinyirnya kaum berpunya sebagai orang yang selalu memandang orang lain dari kulit luarnya. Sikap tegas Arifin disuarakannya lewat tokoh Giyon dan Desi. Film perdananya, Suci Sang Primadona, dinilai Volker Schloendorf – sutradara Die Blechtrommer (pemenang Palme d’Or Cannes Film Festival 1979) sebagai,” menampilkan sosok wajah rakyat Indonesia tanpa bedak”.
Mengulik tema seputar proses pencarian jati diri memberi peluang bagi Arifin untuk berceramah di filmnya. Dan ia memang berceramah. Ia mengkritik, menyatakan ketaksetujuan pada sesuatu yang dianggapnya prinsip, juga menggugah. Untungnya semua disampaikan dengan takaran yang tepat. Tak kurang, tak lebih. Maka ketika menyaksikan kembali Taksi setelah 18 tahun berselang tak membuatnya kehilangan daya pikatnya. Karyanya ini masih erat dengan keadaan masa kini ketika warga cosmopolitan Jakarta yang terperangkap dengan kemunafikan yang ditampilkannya dengan kecurigaan berlebihan dari warga sekitar tempat tinggal Giyon ketika mengetahui pemuda ini memberikan tempat inap bagi Desi yang tak punya ruang untuk berteduh. Padahal disaat bersamaan, warga tersebut sangat terpesona dengan kehadiran Ita. Bocah manis nan lucu itu memang segera merebut perhatian warga kampung.
Apa yang terasa janggal dari Taksi hanyalah untaian kata demi kata dari mulut karakter-karakternya. Jaman yang menuntut kepraktisan ternyata membuat kepekaan dengan rangkaian kata bermakna seperti di Taksi menjadi terasa tak pada tempatnya. Tapi harus diakui, skenario film ini disusun cermat dan tak sekedar gabungan kata demi kata. Ia menjadi penanda bagi sikap karakter-karakter didalamnya. Giyon yang lulusan filsafat memang sepintas terasa sah-sah saja ketika melontarkan kalimat cerdas, namun terasa aneh ketika dituturkan oleh Desi yang tak jelas latar belakangnya.
Taksi juga menjadi pengingat bagi terjadinya kesenjangan pendapat antara yang tua dan yang lebih muda. Terlihat adanya perbedaan pandangan dari dua generasi berbeda usia. Yang muda lebih toleran memandang seseorang, sementara yang lebih tua dianggap hanya mementingkan seseorang dari kulit luarnya saja.
Taksi adalah sebuah dongeng. Ia dituturkan tanpa gagap oleh Arifin karena ia tahu betul medan yang digarapnya. “Arifin bukanlah sosok sutradara yang lahir dari keluarga terpandang, besar di Menteng namun coba membuat cerita tentang kerasnya hidup di kawasan kumuh Jakarta, “demikian kata seorang rekan yang rajin mengamati perfilman nasional kontemporer. Ya, Arifin bisa mendongeng dengan baik tak hanya lantaran ia memang berangkat dari kalangan rakyat biasa, namun ia pun juga rajin mencermati apa yang terjadi di sekitarnya. Hasilnya Taksi memang hidup, dan menjadi lebih hidup berkat dukungan perangkat pemain yang berakting cemerlang.
“Kalau Bapak ada lowongan pekerjaan, mohon bisa menghubungi saya,” ujar sang sopir sambil menyodorkan secarik kertas lusuh bertuliskan nama dan nomor teleponnya. Ia Sukoco, ia bukan Giyon. Tapi ia punya problem yang jauh lebih berat. Tak lagi berkutat pada proses remeh temeh seperti pencari jati diri, namun ia berjibaku dengan singkatnya waktu. “Anak-anak saya masih kecil sementara saya sudah tua. Saya takut meninggalkan mereka tanpa apa-apa, “ katanya lirih.
“Semua kenal sopir taksi, “kata 2 orang ibu yang menumpang taksi Giyon. Kita merasa mengenal mereka, namun sebenarnya tak sepenuhnya mengenal mereka.

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://www.resensi.my.id.stoedioportal.com//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY