Omnibus adalah sebuah strategi.
Omnibus adalah sebuah siasat.
Omnibus adalah sebuah kesempatan.
Memproduksi film omnibus mulai marak selama 5 tahun terakhir di tanah air. Sejumlah diantaranya memproduksinya demi menyiasati pengetatan biaya yang terjadi ketika penurunan penonton di bioskop tampak di depan mata. Sejumlah lain lagi melihat peluang memproduksi film omnibus adalah memunculkan bakat-bakat baru. Dengan mengumpulkan 5 sutradara baru untuk bergabung memproduksi film pendek yang disatukan menjadi film panjang, berarti mengurangi resiko pertaruhan dari produser. Ini yang dilakukan Upi di film Hi5teria dan berhasil.
Hal serupa pernah pula dicoba oleh produser Marcella Zalianty di Rectoverso. Ia mengajak 4 rekannya sesama aktris untuk menjajal kemampuan di belakang layar sebagai sutradara. Dengan meminjam 5 cerita pendek dari Dewi Lestari [dari buku berjudul sama], siapa sangka Rectoverso menjadi film omnibus dalam negeri paling sukses saat ini secara komersial.
Jejak Marcella Zalianty dan kawan-kawan diikuti oleh Acha Septriasa, salah satu dari 4 sutradara [lainnya adalah Fajar Nugros, Fajar Bustomi dan Piyu] di omnibus Aku Cinta Kamu. Ia menyutradarai segmen berjudul “Firasatku” yang berangkat dengan ide cerita “bisakah kita selalu mempercayai firasat?”
Kisah “Firasatku” sesungguhnya sederhana. Pasangan Sita [dimainkan Acha sendiri] dan Randu [Rio Dewanto] tengah mempersiapkan pernikahan. Di tengah kesibukan itu, Sita tampak uring-uringan. Terlihat seperti kegugupan biasa menjelang pernikahan yang bisa dialami siapapun, namun sesungguhnya Sita menyimpan sebuah firasat tak enak di hatinya.
Acha yang makin matang sebagai aktris sepertinya tahu betul bagaimana cerita sesederhana ini dieksekusi. Dan ia juga terlihat berusaha memahami bahwa film pendek bukanlah film panjang yang dipendekkan. Ia memberi perhatian besar pada skenario dan memberi effort besar pada aksi-reaksi antara dirinya dan Rio Dewanto. Maka kita melihat bukan lagi Acha dan Rio di layar, tapi Sita dan Randu. Keduanya adalah gambaran sosok pasangan calon pengantin yang dengan mudah kita temui di sekitar kita, bahkan juga pada diri kita sendiri. Untuk ini, kredit tentu saja perlu disematkan pada dirinya yang pertama kali menyutradarai film.
Acha memberi kejutan ketika ia tak saja bisa mengeksekusi cerita sederhana ini dengan lancar, namun bisa juga tampil total di depan layar. Inilah yang membedakannya dari rekan-rekannya di Rectoverso yang memilih tak tampil di depan layar. Menjadi Sita adalah salah satu akting terbaik yang pernah diperlihatkannya di sepanjang karirnya berakting. Kita tak lagi hanya sekedar melihat Acha yang dengan gampang berurai air mata, tapi kita bisa merasakan campur aduk perasaannya lewat emosi yang tersimak di gestur maupun mimik wajahnya.
Bagian terbaik dari omnibus Aku Cinta Kamu ada di segmen “Firasatku” yang menjadi pembuka film. Untuk 3 segmen lainnya, silahkan dinilai sendiri di bioskop.

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://www.resensi.my.id.stoedioportal.com//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY