Suara itu tak terdengar takut. Budak yang menyanyikannya itu mungkin sudah tak mampu untuk sekedar takut lagi. “We’re down to the river of Jordan, “ lengkingnya yang membuat bulu roma penonton berdiri. Perlahan kita melihat tokoh utama, Solomon Northup [dimainkan dengan cemerlang oleh Chiwetel Ejiofor] tergerak, ikut menyanyikan dan larut dalam air mata.
Kisah hidup Solomon yang luar biasa itu diangkat menjadi film oleh sutradara SteveMcQueen berjudul 12 Years a Slave. Sebuah episode panjang tentang terenggutnya kemerdekaan. Sebuah periode paling sulit dari hidup manusia yang ditindas hak-haknya.
Solomon, seorang kulit hitam terpelajar, tak sedikitpun akan menyangka bisa mengalami tahun demi tahun paling buruk dalam hidupnya. Tak pernah berpikir 2 pria kulit putih bermulut manis yang menawarinya pekerjaan ternyata malah menculiknya dan menjadikannya terjerembab dalam kehidupan kelam perbudakan. Tak pernah berpikir akan bertemu seorang kulit putih sekeji Edwin Epps [Michael Fassbender dalam level akting terbaik yang pernah diperlihatkannya]. Juga tak pernah menduga akan menjadi saksi dari kekejaman Epps atas Patsey [dimainkan pendatang baru Lupita Nyong’o yang menjanjikan], yang menjadi budak nafsunya di tempat tidur dan budak pekerjanya di ladang kapas.
Perbudakan adalah kisah paling memalukan dari sejarah Amerika yang tak pernah bisa dihapuskannya. Ketika prasangka berkembang dari warna kulit. Ketika warga kulit putih merasa derajatnya lebih tinggi dari mereka yang terlahir dengan kulit berwarna. Tapi perlakuan mereka terhadap kaum kulit hitam justru memperlihatkan rendahnya rasa perikemanusiaan dalam diri mereka.
Menonton 12 Years a Slave berarti merelakan diri menyaksikan horor kekejaman manusia atas manusia lainnya. Dan Steve McQueen menyuguhkannya dengan telanjang. Kita bergidik menyaksikan seorang kulit hitam yang bisa ditembak begitu saja dan si penembak melenggang pergi tanpa perasaan bersalah di wajahnya. Kita menutup mata [seraya menjerit dalam hati] ketika menyaksikan seorang budak dicambuk bertubi-tubi tanpa belas kasihan. Kaum kulit putih yang terlihat begitu beriman bisa dengam gampang membuang keimanannya ke bawah meja ketika berurusan dengan budak.
Suara budak itu masih terngiang-terngiang di telinga. “We’re down to the river of Jordan, ” lantunnya. Dan ingatan kita terhempas pada almarhum Widji Thukul yang menulis puisi Derita Sudah Naik Seleher yang mengiris hati.
kaulempar aku dalam gelap
hingga hidupku menjadi gelap
kausiksa aku sangat keras
hingga aku makin mengeras
kau paksa aku terus menunduk
tapi keputusan tambah tegak
darah sudah kau teteskan
dari bibirku
luka sudah kau bilurkan
ke sekujur tubuhku
cahaya sudah kau rampas
dari biji mataku
derita sudah naik seleher
kau
menindas
sampai
di luar batas

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://www.resensi.my.id.stoedioportal.com//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY