Tahun 1994. Sutradara Frank Darabont merilis film The Shawshank Redemption yang kelak diagung-agungkan penggemar film sedunia tak saja sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa namun juga salah satu film dengan latar penjara terbaik yang pernah dibuat.
The Shawshank Redemption berkisah tentang perjuangan Andy Dufresne, seorang bankir yang dipenjara seumur hidup atas pembunuhan istri dan selingkuhannya yang tidak ia lakukan. Selama puluhan tahun di penjara Shawshank yang korup, ia mempertahankan harapan, berteman dengan narapidana Red, dan menggunakan keahliannya untuk keadilan serta kebebasan.
Buat saya pribadi menarik sekali memang menggunakan latar penjara untuk bicara hal-hal besar dan dekat dengan apa yang terjadi dengan kita hari-hari ini. Maka saya merasa tak sabar saat tahu Joko Anwar akan membuat film dengan latar penjara dan kemungkinan juga akan menggunakannya tak sekedar berbicara banyak hal namun juga melakukan kritik dengan caranya sendiri.
Dan akhirnya Ghost in the Cell dirilis tahun ini. Premisnya pun menarik walau terasa campur aduk. Latarnya sebuah penjara antah berantah di negeri ini dengan sistem kasta yang diberlakukan di dalamnya. Mulai dari blok C yang terdiri dari penjahat kambuhan hingga blok K [tebak K kepanjangan dari apa?] yang memuat para penjahat berdasi yang menggerogoti negeri ini dari dalam.
Ghost in the Cell memulai ceritanya dengan mencekam. Saat Dimas, seorang jurnalis muda yang sedang menulis tentang pembantaian hutan di Kalimantan demi tambang nikel illegal, menemukan dirinya dalam sebuah ruangan di mana bosnya terbunuh secara mengerikan dan digantung di kipas di langit-langit ruangan. Dimas pun dimasukkan ke dalam penjara dan bertemu dengan Anggoro cs [dimainkan dengan magnetik oleh Abimana Aryasatya]. Secara kebetulan satu demi satu para narapidana terbunuh secara mengenaskan dan selalu dipertontonkan bak instalasi seni. Dimulai dari Tokek [dengan penampilan singkat nan mengesankan dari Aming] yang tak segan membunuh siapapun dan akhirnya dibantai habis-habisan. Seketika penjara heboh, semua khawatir akan segera menjadi korban dari sang hantu pembantai hingga Six [juga dimainkan dengan asyik oleh Yoga Pratama] bisa melihat aura dari mereka yang kelak akan menjadi korban.
Di tangan sutradara yang terbiasa membesut film horor dengan template yang semakin lama semakin membosankan, premis ini pun bisa jadi akan berakhir sebagai film sejenis. Tapi Joko punya ambisi untuk bicara banyak hal, seringkali terasa terlalu banyak, tentang hal-hal yang menggelisahkannya di negeri ini. Tentu saja dari penjara Joko bisa bicara banyak hal soal keadilan dan bagaimana kekuasaan digunakan semena-mena oleh para sipir untuk menekan narapidana. Joko menggunakan medium yang sangat dikenalnya untuk bicara soal korosi moral di negeri ini yang terus menerus menggerogoti segala sendiri kehidupan. Yang membuatnya menarik karena Joko menjadikannya sebagai satir dan membalutnya dalam sentuhan komedi yang kental yang justru seringkali berhasil membuat penonton terbahak dibanding film komedi lainnya yang seringkali justru berusaha terlalu keras untuk melucu.
Kita melihat Joko membuat penjara sebagai semacam Indonesia mini dengan segala kekhasannya. Dialog-dialog yang bisa saja terjadi di warung-warung pinggir jalan tempat supir truk menunaikan istirahatnya sejenak ditariknya ke sini. Misalnya saja saat adegan para narapidana bermain catur, sebuah dialog sederhana namun terasa nendang dan menimbulkan efek tawa muncul. “Pion tuh gak boleh mundur, harus dikorbanin, namanya juga rakyat kecil.”
Beberapa review yang mulai berhamburan di media sosial sejak kemarin menganggap Joko kali ini melihat dirinya semacam Social Justice Warrior [SJW]. Buat saya itu pilihan yang harus kita ambil sebagai sineas dan saya rasa Joko pun sudah memahami risikonya. Semangat main-mainnya memang sangat terasa di film ini meskipun apa yang dimuntahkan Joko sesungguhnya adalah segala keluh kesah yang kita rasakan selama kita menjadi warga negara Indonesia. Maka frasa “Ini Indonesia, bukan Norwegia” yang bergaung di film beberapa kali memang seakan terus menampar kita dengan realita bahwa mungkin kita malah sudah menormalisasi segala ketidakadilan yang terjadi di depan mat akita. Atau bisa saja karena terlalu banyaknya ketidakadilan terjadi setiap hari maka membuat kita imun dan tak lagi mempertanyakannya dan memilih untuk diam.
Wajar saja jika publik terbelah membaca film ini. Banyak yang menganggap segala sentilan Joko hanya terasa superfisial dan tak pernah benar-benar menyentuh esensi sesungguhnya. Sebagian lagi menganggap eksekusi Joko kali ini sebagai kejeniusannya dalam level tertinggi karena bisa mencampurbaurkan beberapa genre sekaligus [thriller-horor-komedi] dalam takaran yang pas. Tapi di luar itu semua, saya kira industri film Indonesia selalu perlu film-film dengan konten seberani ini.
Kita sudah harus ke luar dari zona nyaman sekedar menggarap apa-apa yang dirasa kelak akan laku di pasaran [padahal sesungguhnya rumusnya pun tak ada yang tahu]. Joko sudah memulainya dengan segala risiko yang ditanggungnya. Siapa yang akan berani meneruskannya menggunakan medium film untuk melontarkan segala kritik yang kita rasakan sebagai warga negara? Mungkin saya. Mungkin juga kamu. Tapi paling tidak kita jangan sampai hanya berhenti di sini.
GHOST IN THE CELL
Produser: Tia Hasibuan
Sutradara: Joko Anwar
Penulis Skenario: Joko Anwar
Pemain: Abimana Aryasatya, Yoga Pratama, Bront Palarae

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://www.resensi.my.id.stoedioportal.com//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY