Home FILM Makna Keluarga Bagi Orang Minang

Makna Keluarga Bagi Orang Minang

Film Onde Mande [2023]

8
0
SHARE
Makna Keluarga Bagi Orang Minang

Tahun 2002. Dua tahun setelah merilis “Petualangan Sherina”, Riri Riza mengejutkan pecinta film dengan Eliana Eliana.

Eliana Eliana adalah sebuah kisah tentang kompleksitas hubungan ibu dan anak, tentang bagaimana dua generasi memandang jaman dan terutama tentang bagaimana orang Minang [diwakili ibu Eliana] memaknai soal keluarga. Dengan gambar dan penyuntingan yang disengaja kasar, kita justru melihat keindahan di tengah keriuhan Jakarta. Sebuah pendekatan yang tak pernah lagi dipakai oleh Riri di film-film setelahnya.

Pemaknaan soal keluarga yang membuat saya masih menjadikan Eliana Eliana sebagai film terbaik dari Riri, salah satu sutradara yang saya hormati. Soal keluarga akan selalu terasa dekat bagi kita, bahwa jejak keluarga tak akan hilang sepanjang usia masih dikandung badan.

Dan hal ini pula yang membuat Onde Mande terasa relevan, bahkan untuk mereka yang bukan orang Minang sekalipun seperti saya. Di tangan Paul Agusta, film ini lahir dengan penceritaan yang kuat, tidak tergesa-gesa dan memberi kejutan demi kejutan menuju ending filmnya. Sebuah kisah yang akan membuat hati kita terasa hangat setelah menontonnya.

Onde Mande datang dengan premis menarik. Salah satu warga yang dituakan di desa Sigiran, Angku Wan, menang sayembara berhadiah uang 2 milyar. Angku Wan adalah seseorang yang sangat mencintai desanya. Ia bahkan menolak merantau ke Jakarta dan membiarkan istri dan anaknya berangkat sendirian.

Sebelum menang sayembara, Angku Wan sudah punya banyak rencana untuk membangun desanya. Tapi sayang, sebelum rencananya terlaksana dan sebelum menerima hadiah uang 2 milyar, Angku Wan dipanggil Yang Maha Kuasa.

Cerita pun mengalir lancar dari sini. Da Am yang menganggap dan dianggap Angku Wan sebagai kerabat terdekatnya pusing tujuh keliling. Bagaimana cara mengklaim hadiah uang 2 milyar dengan Angku Wan yang tak meninggalkan ahli waris seorang pun? Maka rencana pun dibuat. Sebuah rencana yang akan menemukan kejutan demi kejutan, bukan saja bagi penduduk desa Sigiran, tapi juga buat kita sebagai penonton. Dan kita pun belajar banyak, sekali lagi, soal makna keluarga bagi orang Minang.

Skenario yang ditulis cemerlang oleh Paul sendiri bekerja efektif yang membuat Onde Mande tak pernah kehilangan momentum. Sebagai penonton yang bukan orang Minang, saya memahami apa yang ingin disampaikan oleh Paul. Bahwa keluarga bukan saja soal mereka yang bertalian darah namun juga tentang mereka yang pernah membantu kita di masa-masa sulit, tentang mereka yang selalu ada di saat dibutuhkan. Sebagai sesama pembuat film, saya tahu betul bagaimana film ini dibuat dengan hati besar, sebuah persembahan tulus untuk sebuah tempat dari mana kita berasal. 

Onde Mande juga bekerja efektif karena Paul cermat memilih aktor-aktrisnya. Roda film diserahkan pada duet aktor kawakan, Jose Rizal Manua dan Jajang C Noer. Jose yang dibesarkan di teater mungkin terbilang baru di film namun jelas sekali ia tak gagap berduet dengan Jajang. Kegugupan Da Am bisa ditampilkannya dengan baik dan justru seringkali kocak yang membuat penonton tertawa. Sementara Jajang pun menjadi teman duet yang baik, tak berusaha bersinar sendirian di sebuah adegan. Kualitas seorang aktris kaliber diperlihatkannya di sini.

Tapi bintang di Onde Mande bisa jadi adalah Emir Mahira. Sekilas perannya seperti tak signifikan buat cerita. Emir menjadi Aan, perwakilan dari perusahaan penyelenggara sayembara yang mesti berangkat ke desa Sigiran untuk melakukan verifikasi secara langsung. Aan menjadi perwakilan dari generasi anak muda yang dibesarkan di ibu kota yang serba terburu-buru dan serba ada. Dan ketika ia tiba di desa Sigiran, ada kegagapan yang terjadi. Aan tak siap dengan segala kejutan yang mengiringi sayembara, ia hanya datang untuk menjalankan tugasnya sebagai perwakilan perusahaan dengan baik. Titik. Tak lebih dari itu. Aan tak punya intensi untuk terlibat dan melibatkan diri secara emosional dengan siapapun di desa itu. Emir bisa menerjemahkan itu semua dengan cemerlang, tak pernah terlihat berlebihan dan seperti Jajang, tak pernah punya niat untuk mencuri perhatian. Bisa jadi di Festival Film Indonesia di akhir tahun ini, Emir akan mengawinkan piala Citra yang sudah dimilikinya sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik di tahun 2011 dengan piala Citra sebagai Pemeran Pembantu Pria Terbaik melalui Onde Mande.

Dan hidup memang selalu tak bisa diduga. Semesta punya cara untuk menjalankan roda-rodanya sendiri. Roda-roda yang terus berputar dan sesekali bisa jadi memutar arah tanpa pernah kita mengerti sebabnya. Tapi kita pun bisa percaya bahwa sesungguhnya tak ada kebetulan di dunia ini. Semesta sudah punya kehendaknya sejak awal dan akan selalu punya cara untuk mewujudkannya. Dengan segala kekocakan, drama dan segala tikungan yang kita temui sepanjang durasi film, Onde Mande mengingatkan kembali kita bahwa keluarga akan selalu menjadi pertimbangan utama bagi orang Minang dalam menjalankan hidup sepanjang hayatnya. 

ONDE MANDE
Produser: Cristian Imanuell, Suryo Wiyogo 
Sutradara: Paul Agusta 
Penulis Skenario: Paul Agusta 
Pemain: Jose Rizal Manua, Jajang C Noer, Emir Mahira

Video Terkait: