Home FILM Setelah Spiderman, The Flash Adalah Adiwira Idola Baru Saya Berikutnya

Setelah Spiderman, The Flash Adalah Adiwira Idola Baru Saya Berikutnya

Film The Flash [2023]

4
0
SHARE
Setelah Spiderman, The Flash Adalah Adiwira Idola Baru Saya Berikutnya

Tahun 2002. Sosok adiwira Spiderman diperkenalkan ulang dalam format film panjang dan membuat nama Tobey Maguire melambung mencapai puncak popularitasnya.

Saya tak pernah betul-betul menyukai film tentang adiwira. Bahkan sejak mereka masih tampil dalam format animasi. Hingga Spiderman dirilis di bioskop di tahun 2002 dengan Tobey Maguire yang mengemban tugas berat sebagai Peter Parker.

Saya kira alasan saya menyukai Spiderman sesederhana karena ia mirip dengan anak muda seusianya. Ia lahir di tengah keluarga sederhana, tak lagi punya ayah dan ibu dan dibesarkan penuh kasih sayang oleh paman dan bibinya. Ia tak pernah menarik perhatian banyak orang di sekelilingnya, juga tak pernah menjadi incaran gadis cantik. Hingga sebuah musibah mengubahnya menjadi seorang adiwira.

Dan 21 tahun kemudian, setelah Spiderman, saya menyukai The Flash sebagai adiwira idola baru saya berikutnya. Sebagaimana Peter Parker, Barry Allen juga lahir di tengah keluarga biasa-biasa saja, ia juga tak menonjol di lingkungannya, bahkan cenderung menarik diri dan gugup. Dan sebagaimana Peter, Barry pun harus mengalami masa remaja yang tak terlalu menyenangkan setelah ditinggal ibunya.

Alasan saya menyukai Barry bisa jadi personal. Saya juga ditinggal sosok ibu kala masih berusia 15 tahun. Seperti Barry, saya kehilangan pegangan dan terus menerus menumpuk rindu. Dan juga seperti Barry, saya merasakan penderitaan yang sangat akibat kehilangan itu.

Penulis Christina Hodson membuat The Flash sebagai surat cinta dari seorang anak yang terus merindukan kasih sayang ibunya. Barry adalah saya yang masih terus mengingat bagaimana indahnya hari-hari dengan kehadiran seorang ibu di tengah keluarga. Barry adalah saya yang masih terus mengingat bagaimana hangatnya rumah dengan kehadiran seorang ibu sebagai titik pusatnya. Barry adalah saya yang juga masih terus mengenang lagu yang senantiasa dilantunkan oleh ibu yang terus terngiang-ngiang di benak hingga berpuluh tahun kemudian.

Tapi saya masih lebih beruntung dari Barry. Ibu Barry tewas bersimbah darah diserang seseorang di rumahnya sendiri. Dan kelak ayahnya bahkan dipenjarakan atas tuduhan membunuh ibunya. Barry merasa seisi dunia memusuhinya apalagi karena ia tahu betul bahwa ia tak bersalah. Bahkan identitasnya sebagai adiwira pun tak bisa menghindarkan ayahnya dari hukuman yang tak pantas disandangnya.

Dan The Flash juga adalah tentang membuat pilihan. Bagaimana sebuah pilihan yang terlihat minor mampu mengubah semesta secara keseluruhan. Bagaimana sebuah tindakan di masa lalu bisa meluluhlantakkan seisi dunia. Dan bagaimana sebuah sikap egoistik walau dengan niat baik sekalipun selalu bisa membuat dunia sekarang menjadi jungkir balik.

Seperti Peter, Barry hanyalah seorang anak muda yang mengambil keputusan paling bodoh dalam hidupnya. Dan ia tak memahami konsekuensi dari tindakan yang dilakukannya yang ternyata mempengaruhi segala aspek dalam hidupnya. Tapi Barry adalah kita yang begitu naif ingin memperbaiki apa yang salah di masa lalu dan berharap kebenaran akan terungkap dengan sendirinya di masa depan.

Di luar urusan multisemesta yang digaungkan begitu banyak film tentang adiwira, The Flash terlihat paling personal diantaranya. Karena ia mengupas hal-hal paling fundamental yang dialami seorang manusia biasa: perasaan kehilangan, perasaan kerinduan dan keinginan untuk memutarbalikkan yang sudah terjadi. Dan alasan itu pula lah yang menjadikan “The Flash” terasa menyegarkan, bisa jadi juga karena Ezra Miller menyuntikkan energi dan hati begitu besar untuk Barry Allen. Di tangan Ezra, kita tak lagi melihat sosok adiwira yang serba kuat dan serba cekatan tapi juga manusia biasa yang boleh bersedih, seringkali nelangsa dan berjuang mati-matian untuk membela ayahnya.

Di luar urusan spesial efek mencengangkan dan hal-hal teknis lainnya, sekali lagi yang selalu sampai ke hati penonton adalah bagaimana karakter dalam sebuah film merefleksikan apa yang pernah atau sedang mereka rasakan, bagaimana penonton merasa terkoneksi dengan apa yang dialami karakter dan tentu saja bagaimana karakter, sebagaimana penonton, melanjutkan hari-hari mereka setelah melalui hari-hari perjuangan maha keras.

Dan setelah melalui hari-hari paling berat sepanjang karirnya, Ezra Miller pun bisa jadi akan mengalami lompatan karir setelah The Flash. Dan di luar segala kasus yang melibatkan dirinya, kita tak bisa memalingkan muka dan memberi tepuk tangan panjang untuk kerja kerasnya sebagai Barry Allen yang terasa dekat dan terasa relevan dengan kita. Dan faktor inilah yang membuat saya tak sungkan untuk mengidolakan kembali seorang adiwira setelah Spiderman.

THE FLASH
Produser: Michael Disco, Barbara Muschietti 
Sutradara: Andy Muschietti 
Penulis Skenario: Christina Hodson 
Pemain: Ezra Miller, Sasha Calle, Michael Keaton

Video Terkait: