Tahun 1985. Penulis asal Boston, Amerika, bernama Robert W Hefner merilis bukunya yang kelak menjadi klasik berjudul Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam.
Robert W. Hefner adalah seorang Profesor Antropologi dan Studi Global di Boston University, Amerika Serikat. Ia dikenal secara internasional sebagai salah satu pakar terkemuka dalam studi Islam, politik, dan modernitas di Asia Tenggara, dengan fokus khusus yang mendalam pada Indonesia dan Malaysia.
Tak cukup banyak referensi tentang suku Tengger yang diterbitkan dalam format buku. Dan Robert bisa mengulas secara komprehensif mengenai bagaimana suku Tengger mengenal Hindu dan bagaimana kelak Hindu bisa berdampingan dengan damai di Bromo yang menjadi perkampungan suku Tengger hingga hari ini.
Keberadaan suku Tengger berikut secuplik adat istiadatnya menjadi benang merah dari film pendek berjudul Kepaten Obor. Judul ini secara metafora berarti mati/padamnya obor yang menjadi simbol penerang di kalangan suku Tengger. Sementara secara literal bisa diartikan putusnya hubungan kekeluargaan karena sebab-sebab tertentu.
Kepaten Obor berkisah tentang Betari yang datang ke Bromo untuk mengantar surat buat ibunya. Kedatangannya bersamaan dengan penyelenggaraan tradisi Kasodo. Kita bisa merasakan ada ketegangan antara Betari dan ibunya namun kita tak pernah mengerti kenapa. Kita juga tak tahu apa isi surat sang ayah untuk ibunya yang sudah lama pergi meninggalkan mereka. Yang kita tahu tradisi memisahkan keluarga mereka hingga menjadi kepaten obor. Namun hingga film berakhir tak pernah jelas apa sebenarnya alasan ibu meninggalkan Betari dan ayahnya.
Visi untuk mengangkat suku Tengger dengan segenap tradisinya tentu saja adalah sebuah pilihan yang tak saja menarik namun juga berisiko. Apalagi untuk dituturkan dalam film yang berdurasi hanya 12 menit. Maka penulisan skenario menjadi sangat penting. Namun bagaimana pun film adalah visi sutradara, bukan penulis skenario. Film adalah tentang bagaimana visi sutradara akan sebuah kisah, menuliskannya ke skenario dibantu penulis dan kelak mengeksekusinya menjadi gambar hidup.
Lukman Hakim selaku sutradara seharusnya punya visi sejak awal bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang asing dengan suku Tengger. Karenanya ia perlu membimbing Arai Amelya yang menulis skenarionya untuk memberi gambaran apa yang hendak mereka ceritakan. Cukup dengan informasi singkat tentang tradisi Kasodo yang menjadi latar cerita di awal film. Informasi ini akan menuntun penonton yang buta untuk masuk ke dalam dunia yang direka sang sutradara.
Sayangnya pula tradisi ini tak pernah tampil jelas di layar. Kita tak tahu apa keterkaitan antara tradisi ini dengan cerita dan bagaimana tradisi ini bersinggungan dengan karakter-karakternya. Ia hanya menjadi latar yang jika tak ada pun sama sekali tak mengganggu cerita. Menghadirkan tradisi besar ke sebuah film pendek berbiaya rendah adalah pilihan berisiko yang seharusnya disadari sejak awal oleh sutradara. Maka visi sutradara perlu diyakininya betul hingga kelak ia mengeksekusinya agar apa yang ditulis di skenario bisa dengan mudah terbaca oleh penonton.
Tapi skenario yang tak ditulis dengan jernih plus visi sutradara yang rasanya tak cukup jelas masih bisa ditutupi oleh kecantikan lansekap Bromo yang tak tertandingi. Meskipun saya terganggu dengan garis imajiner yang kacau balau namun saya masih terhibur dengan pengambilan sudut maupun penempatan kamera di sejumlah adegan yang bisa membuat film ini terasa mewah.
Begitupun perlu selalu menjadi catatan bagi penggiat film pendek tanah air untuk sedari awal memahami visinya membuat film sehingga bisa menuangkannya dengan mulus ke dalam skenario dan kelak juga bisa tampil maksimal ketika sudah menjadi film yang utuh.


![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://www.resensi.my.id.stoedioportal.com//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)



LEAVE A REPLY