Tahun 2006. Martin Scorsese membuat kejutan dengan mengadaptasi film Hongkong yang tak hanya sukses secara komersial namun juga diakui bermutu tinggi berjudul Infernal Affairs [2002].
Film adaptasi itu berjudul The Departed yang terasa betul sebagai penghormatan Martin kepada karya Andrew Lau dan Alan Mak itu sekaligus sebagai apresiasi tertinggi Hollywood kepada sinema Asia. Martin menghormati materi aslinya, mempertahankan premisnya dan menambahkan beberapa bagian yang membuatnya terasa sangat khas Amerika. Martin tak sekedar mengadaptasi, ia justru melahirkan kembali.
Tapi Lee Cronin bukan Martin Scorsese. Ketika diberi kesempatan untuk mendaur ulang franchise terkenal The Mummy, rasanya ia tak berusaha untuk menghormati materi aslinya. Bisa jadi di kepalanya adalah bagaimana menghancurkan franchise itu dan membentuknya dari nol. Masalahnya adalah apakah upaya itu berhasil?
Yang jelas Lee Cronin’s The Mummy tidak berdiri di pijakan yang kokoh. Ia tak punya modal skenario yang solid. Jika Martin mempertahankan premis Infernal Affairs, Lee justru seperti kebingungan membangun premisnya. Dari sudut pandang siapakah cerita ini bergerak? Dari sudut pandang Charlie atau Larissa atau Katie?
Lee Cronin’s The Mummy membangun ceritanya dari 8 tahun sebelumnya. Saat Katie masih seorang gadis cilik dan keluarganya tinggal di Kairo, ia menghilang begitu saja dari halaman belakang rumahnya. Ayahnya, Charlie, yang seorang jurnalis, kelimpungan. Ibunya, Larissa, yang seorang perawat, kelabakan. Dan tiba-tiba cerita melompat begitu saja ke 8 tahun setelahnya ketika keluarga kecil ini kembali ke Amerika. Saat keluarga ini membangun harapan dan mimpi-mimpi baru, kabar itu datang. Katie telah ditemukan dalam sebuah sarkofagus yang terkubur ribuan tahun di dalam tanah.
Terlalu banyak hal yang terjadi terlalu tiba-tiba sejak awal. Selain sudut pandang cerita yang tak jelas, kita juga tak pernah tahu mengapa harus Katie yang menjadi tumbal untuk menjadi inang dari mumi yang berusia ribuan tahun. Mengapa Katie masih bisa hidup setelah terkurung dalam sarkofagus kedap udara. Juga mengapa Katie malah menghancurkan keluarga yang menyayanginya. Terlalu banyak mengapa yang tak bisa dijelaskan Lee tentu saja membuat kita sedikit kesulitan menikmati 134 menit durasinya.
Alih-alih mempertajam skenario sebagai senjata utamanya meraih simpati penonton, Lee malah terlalu sibuk memikirkan bagaimana agar film ini penuh darah, penuh muntahan, penuh adegan-adegan generik yang membosankan dan hanya berupa pengulangan dari filmnya sebelumnya, Evil Dead Rise [2023]. Lee malah tampak seperti sutradara yang hanya mengejar gaya ketimbang substansi, berusaha sok asyik tanpa meletakkan semua pondasi filmnya pada arah yang benar. Hasilnya adalah sebuah oengkhianatan.
Tapi mungkin Lee menganggap bahwa penonton hari ini memang lebih suka aksi-aksi kosong tanpa motivasi yang kuat. Bisa jadi Lee menganggap penonton cukup terhibur dengan berlimpahnya adegan-adegan yang alih-alih bikin takut malah justru membuat jijik. Tapi saya menganggap bahwa Lee memang tak ada intensi sejak awal untuk menghormati materi aslinya. Karenanya bagi kita yang pernah menyukai The Mummy yang dibintangi dinamik duo, Brendan Fraser dan Rachel Weisz, pengkhianatan ini bukan cuma dosa besar namun dosa tak terampunkan.
Apa boleh buat mengadaptasi atau melahirkan kembali sebuah karya bukan tugas yang mudah. Tak apa membongkarnya ulang namun tentu saja perlu dibangun kembali menjadi sebuah karya dengan pondasi yang kokoh.

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://www.resensi.my.id.stoedioportal.com//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY