Home FILM Tentang Kebesaran Jiwa dan Sebuah Niat Baik

Tentang Kebesaran Jiwa dan Sebuah Niat Baik

Film Ati Raja [2019]

2
0
SHARE
Tentang Kebesaran Jiwa dan Sebuah Niat Baik

Makassar kembali berada di peta sinema Indonesia setelah Uang Panai membuat lebih dari 600 ribu penonton berduyun-duyun ke bioskop. Tiba-tiba kita menoleh ke Timur dan melihat bahwa Makassar memang punya potensi untuk memberi coretan khas bagi perfilman nasional. Ia punya segudang cerita dan masyarakat lokal yang fanatik. Dan ia punya jumlah layar bioskop yang cukup banyak untuk bisa bertarung merebut kehormatan sebagai tuan rumah di kampung sendiri.

Inisiatif-inisiatif bermunculan, sebagian besar diantaranya digarap dengan pendekatan yang sadar betul dengan komersialisme. Di tahun 2018, Inipasti Communika memproduksi Silariang: Cinta Yang [Tak] Direstui dengan kesadaran yang mungkin sedikit mulia: mereka ingin memperkenalkan bahwa Makassar bukan sekedar kota yang riuh dengan penduduk yang gemar tawuran, tapi adalah terdiri dari suku yang memahami kemanusiaan dan meletakkannya di tempat tertinggi. Saya melihat spirit serupa juga diemban Ati Raja yang dibesut Shaifuddin Bahrum. Film ini kentara betul punya kesadaran penuh meyakinkan kita sebagai penonton bahwa Makassar sejak dulu adalah kota yang sejatinya memanusiakan manusia dan menghargai keberagaman.

Ati Raja memperkenalkan kita dengan tokoh utama bernama Ho Eng Dji, disini lebih sering dipanggil sebagai Babah Tjoi. Ia pemuda yang cukup ganteng, punya bakat musik yang menarik namun selalu terlihat menggelisahkan sesuatu. Dengan wajah yang lebih dari separuh film terlihat murung, kita akan diantarkan kepada kompleksitas hidup yang dialami Tjoi.

Bersetting sekitar tahun 1930-an hingga 1940-an, kita melihat Makassar sebagai kota yang madani. Warga dari beragam suku dan etnis bisa hidup berdampingan dengan damai. Bahkan di sebuah adegan, kita dibuat takjub bahwa pada masa itu sudah terpikirkan membuat Partai Islam Tionghoa Makassar. Wow! Sayangnya memang gagasan besar ini tak dielaborasi lebih lanjut sehingga cenderung menjadi sekedar tempelan. Karena selanjutnya lebih dari separuh durasi film, kita akan melihat kegalauan Tjoi dengan hidupnya, kepasrahannya dengan masa depan hingga akhirnya kita melihat Tjoi dalam dimensi yang berbeda: pemuda ini sungguh berbudi. Ia berani mengambil resiko menyelamatkan ibu dengan tiga anak yang diusir oleh suaminya sendiri. Dari sini, kita berharap akan bersimpati pada Tjoi, sebagaimana yang seharusnya memang bisa diharapkan dari karakter utama.

Namun film bergerak lamban, dengan pembabakan yang lebih mirip teater, juga dialog-dialog yang terasa terlalu metaforik untuk diucapkan oleh karakter-karakter yang tampak biasa-biasa saja itu. Tapi tentu saja ini pilihan yang saya kira disadari betul oleh pembuatnya dan perlu dihargai. Film tidak harus selalu dibuat dalam satu gaya yang sama dan diulang-ulang, ia selalu bisa direka dan diciptakan sesuai dengan keinginan pembuatnya.

Sebagai orang yang dua tahun lalu juga menelusuri kisah Ho Eng Dji melalui sebuah skripsi, saya berharap bisa mendapatkan pencerahan mengenai darimana asal muasal lagu Ati Raja yang luar biasa filosofis itu dan lagu-lagu klasik Makassar lainnya yang akhirnya melegenda yang diciptakan Tjoi. Sayangnya saya tidak mendapatkannya disini. Tapi saya terhibur sekali dengan lagu demi lagu di dalam film yang seketika menghempaskan saya ke kampung halaman semasa kecil.

Memproduksi film periodik, semi sejarah/biopik dan semi musikal pula di Makassar adalah sebuah keberanian besar dan niat baik yang sangat perlu dihargai. Makassar memerlukan orang-orang seperti Ancoe Amar [produser] yang tekun menggali sejarah dan mempretelinya menjadi sebuah kisah yang bisa dinikmati umum agar anak cucu kita pun tahu bahwa sejarah tak selalu ditulis oleh pemenang. Tjoi mungkin kalah dalam hidup, namun karya-karyanya terbukti hidup hingga saat ini.

Video Terkait: