Tahun 2019. Setelah menyaksikan film biopik Susi Susanti: Love All di bioskop, saya berujar dalam hati. “Udah segini aja nih? Bagus sih tapi kok berasa nggak ada perspektif baru yang ditawarkan?”
Dan 3 tahun setelahnya saya kembali menyaksikan film biopik berbiaya jumbo, Buya Hamka Vol 1. Tentu saja sebagai sesama pembuat film, saya mengapresiasi niat baik Falcon Pictures merawat kenangan dari pemikir sebesar Buya Hamka. Tapi terasa ada yang mengganjal di hati usai menyaksikannya di bioskop. Saya merasa filmnya terlalu ingin membicarakan banyak hal dan membuat banyak hal justru terasa tak tuntas dibahas.
Hingga akhirnya saya menonton Oppenheimer. Tentu saja saya tahu siapa Robert J Oppenheimer dan bagaimana ia dijuluki Bapak Bom Atom. Tapi sebagaimana kebiasaan saya sebelum menonton film, saya jarang sekali membaca sinopsisnya. Karena saya selalu ingin membiarkan diri saya dikejutkan oleh film yang saya tonton.
Saya tahu Christopher Nolan memijakkan ceritanya pada soal bagaimana Robert dan timnya membuat bom atom. Bom yang kelak meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki di Jepang sekaligus bom yang kelak juga meluluhlantakkan perasaan orang-orang yang terlibat dalam proyek yang dipimpin Robert termasuk Robert sendiri.
Yang membuat saya terkesima adalah bagaimana Christopher mengambil pendekatan yang tak pernah terbayangkan. Ia menjadikan kisah bagaimana Robert yang sebelumnya dianggap berjasa oleh negaranya lantas integritasnya hendak dihancurkan oleh kalangan tertentu hanya karena dendam pribadi. Dan kita pun melihat Robert sama saja seperti kita, yang tak pernah imun dengan prasangka, selalu bergulat dengan emosi-emosi internalnya yang kompleks dan tak tercerabut dari statusnya sebagai seorang suami dan ayah.
Dan selama 3 jam dipaku ke kursi bioskop, saya menyadari satu hal yang tak pernah sejelas ini sebelumnya di kepala saya: begini seharusnya kita membuat film biopik. Fokus, intens dan memuat pergulatan-pergulatan emosi seorang manusia. Dalam sebuah wawancara, pembuat film dokumenter peraih Oscar, Alex Gibney, bilang bahwa film biopik memang selayaknya punya esensi dan tahu titik serangnya. “It’s finding an essence. It’s finding an attack.” Ditambahkannya lagi bahwa film biopik yang bagus selayaknya menghindar dari keinginan melakukan semuanya. “I think the ones that are less successful are the ones that dutifully try to do everything, and in trying to do everything, end up with nothing.”
Ada berbagai alasan mengapa pembuat film memutuskan untuk mengangkat kisah hidup seseorang ke dalam film. Dalam bukunya Bio/Pics: How Hollywood Constructed Public History (1992), George Custen menganggap bahwa biopik telah dan terus akan memiliki peran penting sebagai alat penerjemah sejarah. Sementara pihak produser memproduksi film biopik bisa saja murni karena alasan komersial. Mary Murphy dalam bukunya Model Lives: The Social Value of Filmed Arts Lives bilang “film biopik dapat menjadi media yang baik dalam menjembatani tuntutan pasar terkait tontonan yang tak hanya menghibur namun juga mengedukasi.”
Tapi sebagai pembuat film yang baik, apakah tanggung jawab kita hanya sebatas memotret kualitas terbaik dari sang tokoh? Sebagaimana film pada umumnya, toh dramatisasi tetap saja diperlukan untuk membuat film menjadi lebih menarik dan tak membosankan. Dennis P Bingham dalam bukunya Whose Lives Are They Anyway? The Biopic as Contemporary Film Genre (2010) berujar, “... detak nadi dari biopik adalah dorongan untuk mendramatisir kenyataan.” Tapi apakah semua formula ini sudah cukup?
Saya mengamini apa yang dikatakan penulis buku Tom Brown seusai terkesima menyaksikan bagaimana Oppenheimer di tangan Christopher menjadi sebuah studi karakter yang luar biasa menarik. Kita melihatnya menguliti karakter Robert, si tokoh utama, tidak saja kualitas terbaiknya namun juga kualitas terburuknya yang menjadikannya manusiawi. Tapi tak cukup cuma itu. Christopher juga memperlihatkan bagaimana ia mengupas karakter begitu banyak orang yang berseliweran di sepanjang hidup Robert dan membuat Oppenheimer menonjol sebagai sebuah film biopik yang sukses. “The ones that I most enjoy are the ones that do something different, something unexpected, films that take the idea of how to tell a story about a life and invert it,” ujar Tom yang menjadi co-editor buku The Biopic in Contemporary Film Culture.
Begitupun saya membayangkan tak mudah memperlihatkan kualitas buruk dari seorang tokoh di film biopik Indonesia. Sulit membayangkan film biopik tentang Soekarno akan memotret sisi gelap presiden pertama Indonesia itu yang pernah memenjarakan banyak lawan-lawan politiknya tanpa pengadilan dan dasar yang jelas. Atau membuat film biopik tentang Kartini yang menyuarakan keras pemikirannya soal bagaimana pengetahuan dan modernitas Barat yang dibawa oleh kolonialis Belanda yang dianggapnya bisa menghapuskan tradisionalisme Jawa dan membebaskan wanita Jawa: “Orang menganggap penuh ‘omong-kosong’ terhadap buku-buku yang datang dari Barat .. Pendapat orang tadi tidak seluruhnya betul. Bukan hanya buku-buku yang membuat anak gadis itu .. benci akan keadaan yang sejak zaman dahulu kala telah ada dan merupakan azab bagi semua kaum yang bernama perempuan. Keinginan terhadap kebebasan, berdiri sendiri dan kemerdekaan, bukan baru-baru saja .. Keadaan dalam lingkungan yang langsung dan tidak langsunglah yang menumbuhkannya.”
Saya yang telah menyiapkan membuat film biopik tentang pahlawan sepakbola asal Sulawesi Selatan, Ramang, sejak tahun 2012 seperti mendapat pencerahan usai menyaksikan Oppenheimer. Dan saya membayangkan filmnya akan dimulai dari bagaimana Ramang dituduh terlibat dalam Skandal Senayan yang membuat harga diri dan hidupnya terpuruk bertahun-tahun setelahnya.
OPPENHEIMER
Produser: Christopher Nolan, Charles Roven, Emma Thomas
Sutradara: Christopher Nolan
Penulis Skenario: Christopher Nolan
Pemain: Cillian Murphy, Robert Downey Jr, Emily Blunt

![Jalan Yang Jauh, Tak Usah Pulang [Kampung] Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png](https://www.resensi.my.id.stoedioportal.com//asset/foto_berita/Screen_Shot_2026-02-25_at_06_59_56.png)




LEAVE A REPLY